Indonesia | English
Login Anggota


Berita Terkini

TSHE masuk Kampus ...

Pada 12 dan 13 Februari yang lalu, Yayasan Dian Desa berkesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan ...
Demo TSHE di Wulungsari, Wonosobo ...

Bekerjasama dengan para fasilitator pasar yang akan memasarkan tungku di wilayah program percontohan, ...
Launching Hasil Uji TSHE Tahap ...

Pada 23 November 2015 yang lalu, Direktorat Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru dan Terbarukan ...


Galeri



Video



Mitra Kami

Dampak Polusi Udara Dalam Ruang Pada Kesehatan

2013-05-10 21:55:21

Pesan-Pesan Utama

  1. Sekitar 40% rumah tangga di Indonesia masih akan terus menggunakan bahan bakar biomassa tradisional (terutama kayu bakar ) untuk memasak. Hampir semua rumah tangga ini ada di daerah pedesaan dan cenderung untuk terus menggunakan bahan bakar biomass tradisional di masa mendatang.
  2. Pembakaran bahan bakar biomass tradisional merupakan faktor resiko utama pada kesehatan di Indonesia..Polusi udara dalam ruang yang diakibatkan oleh penggunaan bahan bakar biomass tradisional merupakan penyebab kematian dini yang diperkirakan sebesar 45,000 setiap tahunnya, dan yang paling terkena akibatnya adalah wanita dan anak-anak.
  3. Untuk mengurangi polusi udara dalam ruang, Indonesia perlu untuk membangun pengalaman-pengalaman yang dimilikinya dan memberbesar serta memperluas akses masyarakat pada cara memasak yang lebih modernlebih bersih dan sehat. World Bank meluncurkan Initiatif TSHE Indonesia untuk membantu meningkatkan akses pada TSHE yang efisien melalui pembangunan kapasitas, pengembangan kebijakan, dan mendukung rencana kerja pemerintah.

Mengapa polusi dalam ruang terkait dengan isu kesehatan?
 
Polusi udara dalam ruang yang diakibatkan karena pembakaran bahan bakar biomassa padat dengan menggunakan tungku tradisional merupakan salah satu faktor utama penyebab mortalitas dan penyebab berbagai penyakit.  Lebih dari setengah penduduk dunia, masih menggunakan bahan bakar padat , seperti  kayu bakar, sisa pertanian, kotoran sapi atau kerbau, dan juga batu bara sebagai sumber bahan bakar utama untuk memasak di rumah tangga dan untuk menghangatkan ruangan. Pembakaran bahan bakar padat dalam ruang dengan menggunakan tungku tradisional menghasilkan partikel halus (PM) dalam jumlah besar dan juga polusi polusi gas, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan yang cukup serius pada penduduk yang terpapar polusi. Tingkat emisi polusi udara dalam ruang yang diakibatkan  penggunaan bahan bakar padat bisa mencapai  20 – 100 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bahan bakar yang bersih seperti LPG, dan seringkali 20 kali lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat polusi maksimum yang diperbolehkan sesuai dengan aturan atau petunjuk  yang dikeluarkan oleh WHO dan standard nasional seperti dapat dilihat pada tabel 1.

Asap dari bahan bakar memasak diperkirakan menyebabkan kematian dini sebesar sekitar 2 juta orang di dunia per tahunnya – bahkan lebih besar dari pada kematian yang disebabkan oleh gabungan dari malaria dan TBC.2Asap dari bahan bakar padat merupakan faktor resiko ke sembilan sebagai penyebab penyakit dan sebagai penyebab ke sepuluh pada tingkat mortalitas di dunia.
Wanita dan anak anak terutama di negara berkembang adalah kelompok yang paling terkena dampak negative pada kesehatan  yang disebabkan oleh polusi udara dalam ruang karena asap dari bahan bakar padat. Wanita dan anak-anak perempuan yang lebih terkena dampak karena banyaknya waktu yang dihabiskan untuk memasak di dapur. Terutama Anak-anak kecil  juga mudah terkena dampak nya karena mereka banyak tinggal di dalam rumah dan hampir selalu di dekat ibunya, termasuk pada waktu Ibunya sedang memasak.
 
Suatu meta-analisis dari studi-studi global tentang resiko pneumonia pada anak-anak balita menunjukkan bahwa anak anak yang terpapar asap dari bahan bakar padat beresiko 1.8 kali lebih besar untuk terkena pneumonia dari pada anak-anak yang tidak terpapar (Smith et al. 2010). Analisis juga menunjukkan bahwa peningkatan resiko untuk terkena penyakit-penyakit infeksi saluran pernapasan bawah (ALRI), penyakit paru-paru obstruktif kronis (COPD), katarak, kanker paru-paru, dan penyakit jantung cukup bervariasi – dari kurang dari 10 persen sampai bahkan 2 kali lebih besar. Rerata, kemungkinan untuk terkena penyakit-penyakit yang disebutkan terdahulu berkisar antara 78 persen untuk penyakit yang berhubungan dengan pernapasan bagian bawah (ALRI) pada anak balita dan sampai 150 persen untuk COPD pada wanita berumur di atas 15 tahun.3
 
 
 
Bagaimana Situasi Penggunaan Energi di Rumah Tangga di Indonesia?

Diperkirakan sekitar 40 persen rumah tangga di Indonesia masih menggunakan bahan bakar biomassa tradisional sebagai bahan bakar untuk memasak. Walaupun rumah tangga pengguna kayu bakar telah sedikit menurun akhir akhir ini – dari 49% di tahun 2007 menjadi 40% pada tahun 2010 –pada tahun 2010, tetap masih ada sekitar 24,5 juta rumah tangga yang masih menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar utama memasak (gambar 1). Kayu bakar masih akan terus digunakan secara dominan sebagai bahan bakar memasak di 18 dari 33 propinsi. Luasnya penggunaan kayu bakar terutama disebabkan karena kurangnya akses masyarakat pada bahan bakar maupun tungku yang yang lebih bersih, effisien  dan terjangkau harganya (gambar 2).








Jumlah rumah tangga terbesar yang masih tergantung pada bahan bakar biomassa untuk memasak ada di Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa barat. Pada tahun 2007, di tiga propinsi ini bila digabungkan ada lebih dari 14 juta rumah tangga pengguna kayu bakar untuk memasak, yaitu sekitar 53% dari total pengguna nasional. Pada tahun 2010 jumlah ini berkurang sampai menjadi 11,7 juta, akan tetapi ketiga propinsi ini tetap menunjukkan hampir setengah dari keseluruhan jumlah pengguna kayu bakar di Indonesia (table 2).
 
Jumlah pengguna LPG meningkat lima kali lebih besar sebagai hasil dari program konversi minyak tanah ke LPG yang dimulai tahun 2007. LPG menggantikan sebagian besar pasar minyak tanah, yang membuat peningkatkan pengguna LPG dari 5,6 juta di tahun 2007 menjadi 27,6 juta di tahun 2010. Oleh karenanya LPG menjadi bahan bakar memasak yang dominan di 10 propinsi di Indonesia, dan pengguna minyak tanah menurun menjadi hanya 7 juta pada tingkat nasional. Akan tetapi rumah tangga pengguna LPG masih terkonsentrasi di pulau Jawa (Gambar 3).



Dampak pada Kesehatan Apa Saja yang disebabkan oleh Polusi Udara Dalam Ruang di Indonesia ?

Indonesia menempati  posisi ke dua di Asia Timur dan Pasifik untuk tingkat  mortalitas yang terkait dengan polusi udara dalam ruang yang diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar padat. Polusi  udara dalam ruang yang disebabkan oleh penggunaan bahan bakar padat menjadi penyebab kematian dini lebih dari 45.000 orang di Indonesia setiap tahunnya. Khususnya penyakit paru-paru obstruktif kronis (COPD) sebagai penyebab kematian terbesar dari total angka kematian tersebut(Tabel.3).



Penggunaan kayu bakar sebagai bahan bakar memasak juga terkait dengan meningkatnya resiko pada penderita asma, TBC paru, dan infeksi saluran pernafasan pada anak-anak balita di Indonesia. Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan bahan bakar padat di Indonesia, terutama oleh masyarakat di daerah pedesaan, sangat erat kaitannya dengan tingginya tingkat penyakit pernafasan (respiratori). Misalnya, pengguna kayu bila dibandingkan dengan pengguna  LPG atau minyak tanah untuk memasak memperlihatkan adanya peningkatan resiko terkena asma sebesar 5,8 kali dan resiko terkena TBC 6 kali lebih besar (Aron 2004). Beberapa studi lain menunjukkan bahwa para ibu-ibu yang biasa membawa anaknya di dapur pada waktu mereka memasak juga meningkatkan resiko pada anak sebesar 2 – 6 kali untuk terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan pneumonia. Kurangnya ventilasi di dapur juga turut menambah semakin tingginya kejadian penyakit asma sampai 6 kali lebih besar dan juga masalah ISPA yang lebih tinggi.
 
Apa yang dapat dilakukan untuk Mengurangi Polusi Udara Dalam Ruang dan meningkatkan kualitas udara dalam ruang ?

Paparan polusi udara dalam ruang dapat dikurangi dengan menggunakan berbagai pilihan teknologi, kondisi rumah, dan intervensi-intervensi terkait perilaku. Konsentrasi polutan dalam ruang tergantung pada perpaduan dari bahan bakar dan tungku yang digunakan (misalnya, tungku TSHE yang canggih dapat mengurangi tingkat polusi udara dalam ruang sampai lebih dari 50%), desain rumah (misalnya, ukuran luas rumah dan bahan konstruksi, pengaturan ruangan, dan ventilasi), dan perilaku penggunaan tungku (misalnya, apakah bahan bakar padat dikeringkan terlebih dahulu sebelum digunakan/dibakar). Selain tingkat polusi itu, seberapa banyak paparan tergantung juga pada lamanya waktu yang dihabiskan di dapur atau dekat tungku, melakukan kegiatan memasak, dan berbagai kegiatan masak-memasak lainnya.

Mengganti bahan bakar dengan bahan bakar yang bersih (seperti, listrik, gas, LPG atau biogas) adalah cara yang paling efektif untuk mengurangi polusi udara dalam ruang dan merupakan hal yang perlu di promosikan. Akan tetapi rumah tangga di pedesaan sepertinya masih akan terus menggunakan bahan bakar padat di masa mendatang. Bahan bakar modern yang lebih bersih (seperti, gas alam, LPG, dan listrik) biasanya lebih mahal dari pada bahan bakar padat, juga harga tungku atau kompornya lebih mahal dan juga infrastruktur pasokan belum terbangun sehingga penduduk di daerah pedesaan sulit untuk mendapatkannya. Sebaliknya, berbagai macam bahan bakar biomassa tersedia di pedesaan dan secara tradisional masyarakat hanya mengumpulkan untuk digunakan, tidak untuk dijual. Oleh karena itu pergantian bahan bakar untuk memasak di daerah pedesaan sepertinya tidak akan terjadi dalam jumlah besar sampai suatu saat bila kondisi ekonomi masyarakat pedesaan telah benar-benar maju.

Dimana penggunaan bahan bakar padat berlanjut, cara yang paling efektif adalah dengan promosi TSHE termasuk TSHE yang cukup canggih yang menggunakan bahan bakar padat akan tetapi tidak mengakibatkan polusi atau bersih dan lebih efisien–dan juga diikuti dengan kampanye penyadaran . Suatu generasi baru TSHE  dan juga yang lebih efisien sekarang tersedia secara komersial di seluruh dunia, tetapi mereka belum diperkenalkan dalam jumlah besar di Indonesia. Ada kebutuhan mendesak untuk mengembangkan, mempromosikan, dan menggunakan generasi baru TSHE yangcanggih yang secara  signifikan dapat mengurangi penggunaan bahan bakar dan emisi dan dengan demikian meningkatkan kesehatan. Bagian penting dari promosi adalah kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang pengaruh negatif pada kesehatan dan dampak pada lingkungan dari penggunaan tungku tradisional, memberikan motivasi untuk perubahan perilaku yang diperlukan pada masyarakat lokal dan supaya mereka mau mengadopsi produk baru (World Bank 2011a).

Langkah-langkah ke depan

Indonesia perlu belajar dan mengembangkan pengalaman-pengalaman yang ada dalam program pengembangan dan penyebaran TSHE dan melakukan intervensi secara lebih efektif yang secara simultan akan mengintervensi bidang konservasi energi, kesehatan, kemiskinan , dan hal-hal terkait lingkungan . Program pengembangan dan penyebaran TSHE di Indonesia telah dilakukan oleh banyak LSM sejak awal 1980 an. Walaupun telah ada hasil-hasil yang didapat, program-program tersebut umumnya masih pada tingkat pilot program dan jumlah total TSHE yang disebarkan masih terbatas dan sporadis.

Program konversi Minyak Tanah ke LPG yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia (2007 -12) menunjukkan kemajuan yang nyata  dalam memberikan insentif-insentif pada rumah tangga untuk berubah, dari menggunakan minyak tanah ke LPG. Program ini telah membantu mengurangi budget pada biaya subsidi minyak tanah. Akan tetapi target dari program ini terutama adalah rumah tangga pengguna minyak tanah dan hanya sedikit target yang mengena pada  pengguna bahan bakar biomassa.  Oleh karena itu diperkirakan pada dekade mendatang, penggunaan bahan bakar biomassa untuk memasak masih akan berlanjut dan dalam jumlah yang cukup besar – dan bahkan ada kemungkinan mengingkat di beberapa daerah bila tidak ada intervensi kebijakan yang signifikan.

Selain adanya implikasi positif pada kesehatan, peningkatan dan perluasan akses pada TSHE juga akan merupakan langkah maju kedepan yang penting dalam mengurangi kemiskinan, meningkatkan persamaan gender, dan meningkatkan lingkungan baik lokal maupun global. Oleh karena itu sudah saatnya bagi Indonesia untuk membangun berdasarkan pengalaman-pengalaman yang ada dengan mempercepat dan memperbesar skala program yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengatasi berbagai hal yang disebutkan di atas secara terkoordinasi .Seiring dengan program-program yang mempromosikan bahan bakar yang pembakarannya bersih (seperti LPG dan biogas), perlu untuk mengeksplorasi pilihan-pilihan lain, termasuk pengembangan generasi baru tungku biomassa dengan pembakaran yang bersih yang inovatif, pengembangan teknik pemasaran yang lebih baik untuk mempromosikannya, dan dorongan pada upaya sektor swasta untuk memasarkan dan menjual TSHE  biomassa generasi baru yang lebih canggih.

Mencapai akses universal pada pelayanan energi modern pada tahun 2030 adalah tujuan yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa, mendeklarasikan 2012 sebagai tahun Energi yang berkesinambungan untuk semua. Indonesia, dengan jumlah penduduk yang masih cukup besar yang masih kurang akses pada pelayanan energi modern akan memegang peranan penting dalam mencapai tujuan global tersebut. Untuk itu, World Bank di Indonesia bekerja sama dengan Direktorat Bioenergi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencanangkan Program Initiative TSHE Indonesia, yang bertujuan untuk membantu memberbesar dan memperluas akses pada cara memasak yang efisien dan tidak mengakibatkan polusi udara melalui pembangunan kapasitas, pengembangan kebijakan, dan dukungan pada rencana kerja beberapa pemerintahan

Tulisan ini ditulis oleh Yabei, Zhang dan Yun Wu, dengan masukan dari Dejan Ostojic, Eva Jarawan, dan Doug Barnes. Temuan temuan, interpretasi, dan kesimpulan-kesimpulan tidak mencerminkan pandangan dari para direktur eksekutif dari World Bank ataupun dati Australian Agency for International Development


index >>